Kencan sama Dokter #10

Hari Senin 27 Mei 2013 atau HPL+3 saya kembali ke RSBK untuk periksa lagi dengan dr. Flora. Sejujurnya saya sudah malas kembali ke dokter karena ujung-ujungnya saya akan diminta untuk tinggal dan pasrah menerima induksi, tapi karena paginya saya mendapati lendir bening di celana dalam saya, jadinya saya harus kembali ketemu dengan dsog.

Seperti sebelumnya, setelah daftar bayar biaya dokter (Rp. 125.000,-) dulu baru kemudian ditimbang dan diukur tekanan darahnya. Tinggal antri diperiksa deh 🙂

Didalam ruang periksa, saya ceritakan keluhan-keluhan yang saya alami seperti tekanan yang kuat disekitar vagina dan punggung bawah terasa pegal. Saya juga ceritakan tentang lendir bening tadi. Untuk memastikan apakah proses persalinan sudah mulai atau belum, diputuskan untuk Vaginal Toucher atau Periksa Dalam oleh dr. Flora. Ternyata VT itu rasanya memang mak nyuuuusss. Ga bohong deh cerita-cerita yang pernah saya dengar dan saya baca :D. Dan hasil VTnya adalah kepala bayi sudah turun sekali tapi belum ada pembukaan. Oleh doker saya disarankan untuk melakukan rekam jantung janin. Baiklaaaah..

Bayar dulu dikasir (Rp. 100.000,-) dan kemudian antri lagii. Lama perekaman jantung ini adalah 20menit dan alatnya cuma satu! Lumayan juga antri saya kali ini karena ada 2 bumil yang sudah antri sebelum saya.

Saat mencari detak jantungnya, baby diperut sepertinya sengaja menjauhkan jantungnya dari kulit saya. Hebatnya, setelah saya ajak bicara dan saya bujuk untuk bekerjasama baby mau anteng deketin jantungnya untuk 20 menit. Dan setelah 20 menit, terlihat kalau baby menjauh lagi karena rekam detak jantungnya menurun lagi. Subhanalloh, pinternya anakkuu. Selesai dari situ, kembali lagi ke ruang dr. Flora. Antri lagi (fiuuuhhh)

Sambil baca hasil rekam jantung yang menunjukkan bayi masih nyaman didalam perut, dr. Flora meminta saya untuk langsung ke UGD untuk diinduksi. Noooo!!!

Saya tolak dengan alasan siklus mens yang tidak teratur dan HPL dari usg sebelumnya yang berubah-ubah. Akhirnya dr. Flora mengalah tapi saya harus usg lagi untuk memastikan kandisi bayi. Okeh, bayar lagi (Rp. 150.000,-) ke kasir dan antri lagi (-_-‘)

Oia, karena dr. Flora sepertinya memperhatikan sekali kondisi ketuban, jadi sambil antri saya rehidrasi terus. Dan setelah di usg, ketuban saya masih sangat cukup untuk menunda induksi. Berat bayi juga sudah bertambah menjadi +/- 3500gr. Satu lagi hasil usg yang beda, katanya posisi kepala memang sudah turun tetapi menengadah. Ga begitu ambil pusing dengan posisi kepalanya, yang penting ketuban cukup.

Saat kembali ke ruang dr. Flora, saya diijinkan pulang dan induksi bisa ditunda sampai hari Jumat atau tepat 41minggu.

Fiuh, lega saya..

Cepet lahir ya nak, biar ga diinduksi..

Posted from WordPress for Android

Kencan sama Dokter #9

Kali ini dateng ke dokter lagi dengan terpaksa. Saya terpaksa ke dokter lagi karena terpengaruh lingkungan. Ya lingkungan, karena lingkungan saya yang pada ribut nanya “ kapan lahir?”, “sudah lahir belum?”, “HPL kapan?”, dan segala pertanyaan dari sekitar yang buat saya semakin galau. Apakah benar bayi saya baik-baik saja diperut?, apakah ketubannya masih bagus?, apakah ada lilitan tali pusat yang bikin bayi susah turun?, atau berat bayi saya terlalu besar? Ah, tiba-tiba ada banyak kenapa dikepala saya. Jadi saya putuskan untuk ke dokter lagi untuk USG memastikan kesejahteraan janin saya.
Oia, saya tidak lagi ke dr. Bob di Harmoni. kenapa? Karena usia kehamilan saya sudah 39minggu, dan seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya kalau dr. Bob memakai patokan 9bulan 10hari sebagai lama waktu hamil atau kira-kira 37minggu. Saya takut kalau periksa kesana langsung ditahan untuk tidak boleh pulang dan langsung diminta untuk induksi. Hehehe, agak kePDan juga siy sebenarnya. Tapi buat saya, lebih baik mencegah daripada kejadian beneran.. 😀
Kemana saya periksa kali ini? Kembali ke YPK Menteng? Ga tuh! Kali ini saya nurut suami untuk periksa ke Rumah Sehat Budi Kemuliaan (RSBK). Suami ngajakin kesana karena banyak kenalan yang menyarankan untuk bersalin di RSBK. Baiklah, saya pikir jarak RSBK dekat dengan rumah jadi bisa untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan emergency dan buat saya tidak masalah periksa dengan dokter siapa yang penting perempuan. Cukup dr. Bob saja yang liat-liat perut saya ;). Dan disarankan periksa ke dr. Flora H (H-nya siapa saya lupa :D).
Prosedur periksa di RSBK mirip seperti di RS lain. Pertama ya daftar dulu untuk dapat antrian dan menentukan dengan dsog siapa mau periksa. Trus kekasir bayar biaya periksa (Rp. 125.000,-)dan biaya administrasi (Rp. 5.000,-). Setelah itu saya ditimbang dan ditensi, ada yang beda disini. Saya diwawancara oleh suster tentang riwayat kesehatan saya, seperti golongan darah, pernah operasi, penyakit bawaan, riwayat kembar, HPHT, dll. Habis itu baru ketemu sama dokternya. Dr. Flora ini seperti dr. Rima Irwinda di YPK, kalo ga ditanya ya diem aja. Untungnya saya sudah siapkan banyak pertanyaan dari rumah untuk menjawab rasa penasaran saya. Nah, ada yang beda juga di ruang periksa RSBK, kalo biasanya diruang periksa langsung ada alat USG, disini ga ada. Jadi cara dokternya meriksa kayak bidan, pake meteran untuk ukur tinggi fundus dan langsung pegang perut untuk melihat posisi janin sama doppler untuk cek detak jantung janin. Alhamdulilah, janin posisinya tidak berubah. Kepala tetap dibawah, sudah masuk panggul dan detak jantungnya normal. Baru habis itu ditawarin untuk USG, jadi disini periksa hamil tidak selalu diUSG. Karena untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas perlu USG, baiklah USG sekalian deh biar ga penasaran. Ternyata kalo mau USG harus bayar dulu (Rp. 150.000,-) dan antri lagi karena alat USGnya ada diruangan terpisah dan digunakan bergantian oleh dsog yang praktek sore itu. Agak aneh ya untuk sebuah rumah sehat khusus ibu dan anak. Ya sudahlah, kalo ga gitu ga tau kan gimana RSBK dan ga bisa berbagi ke pembaca blog ini :D.
Antri yang kedua ini cukup lama, karena yang pakai USGnya bukan Cuma 1 dsog saja. Ga inget juga ada berapa banyak bumil yang antri USG. Oia, saya pikir sonographer (bener ya namanya?) atau yang periksa USG ini orang lain, maksudnya bukan dr. Flora. Eh ternyata tetep dr. Flora yang usek-usek perut saya pake setrikaan itu :D. sambil ngusek-usek perut, dr. Flora bilang kondisi janin saya. Posisi kepala dibawah, sudah masuk panggul, plasenta bagus, ketuban cukup, berat janin +/- 3300gr, dll. Di ruang USG tidak ada meja kursi seperti di ruang periksa, jadi untuk ngobrol lagi dengan dokternya harus antri lagi ke ruang periksa. Huft, ribet betul ya….
Setelah antri dan jajan :D, saya dipanggil lagi ke ruang periksa. Dr. Flora menyampaikan hasil USG tadi secara lebih manusiawi, bukan bahasa kedokteran yang saya ga ngerti. Cuma yang saya lupa tanyain, apa janin saya ada lilitan. Moga-moga ga ada ya nak, semua sehat dan normal. Akhirnya, seperti prosedur periksa kedokter lainnya, saya dikasi resep multivitamin Folamil Genio dan penambah darah. Dan seperti biasa juga tidak saya tebus resepnya di RSBK tapi saya beli di Tanah Abang. Hehe.