Penambahan status baru : Ibu dari Narendra Raya Utomo

Sejak masuk usia kehamilan 37minggu, saya sudah mulai melakukan induksi alami agar proses persalinan segera terjadi karena sudah tidak sabar ingin peluk dan cium baby Raya. Induksi yang saya lakukan adalah berjalan kaki sejauh dan sekuat saya, makan nanas/ minum jus nanas, pelvic rocking setiap saat, pasang aromaterapi jasmine, pijat endorphine dan pijat akupressure. Tapi sepertinya baby Raya masih betah didalem perut karena sampai HPL tanggal 24 Mei 2013 saya masih belum merasakan apa-apa.

27 Mei 2013 (HPL+3)

Setelah jalan pagi seperti biasa, saya mendapati lendir bening yang cukup banyak dicelana dalam. Kontraksi juga mulai terasa walaupun bukan mules tetapi pegal di bawah pinggang belakang. Sorenya saya cek ke dokter dan di-VT, katanya belum ada bukaan tetapi kepala sudah sangat turun. Sebenarnya saat itu juga saya diminta untuk induksi, tetapi setelah dicek kesejahteraan janinnya, saya diperbolehkan melanjutkan kehamilan ini sampai 41w.

28 Mei 2013 (HPL+4)

Untuk menghindari induksi RS dan atas saran dari bude bidan Erie, saya dan suami berhubungan agar prostaglandin yang ada di sperma bisa melunakkan mulut rahim dan terjadi pembukaan. Memang dari sekian cara induksi alami, cuma cara ini yang belum kami coba. Dan ternyata memang cara induksi ini yang manjur buat saya. Malamnya saya tidak bisa tidur nyenyak karena kontraksi sudah semakin sering dan semakin kuat. Suami sudah ngajakin kerumah bude Erie malam itu juga, tapi saya tolak karena masih bisa menahan kontraksinya.

29 Mei 2013 ( HPL+5)

Pagi-pagi setelah solat Subuh, suami langsung cari taksi dan kamipun meluncur ke Citayam yang makan waktu sekitar 2 jam dari rumah. Selama perjalanan tangan suami sudah stand by di pinggang saya, jadi kalau kontraksi datang langsung ngusek-usek pinggang :D. Sampai di klinik, langsung dicek kontraksinya sama mba Ririn (asisten bidan). Saat itu mba Ririn bilang “kayaknya masih lama ini lahirnya si dedek”. Waktu saya tanya kenapa katanya karena saya masih bisa bercanda. Haha..

Setelah memandu yoga bude Erie datang dan menawari VT, tapi saya masih trauma dengan VT sebelumnya di RS jadi saya minta nanti saja. Sehari itu saya lebih banyak tidur untuk balas dendam waktu tidur saya dimalam sebelumnya sambil sesekali kontraksi ringan dan tetap konsumsi nanas. Sorenya sebelum menolong persalinan, bude Erie menawari untuk VT. Kali ini saya oke-in karena saya juga penasaran. VT sama bude Erie rasanya jauh lebih nyaman karena saya dipandu untuk nafas dan diberi aba-aba. Tidak seperti sebelumnya yang tiba-tiba ada jari masuk ke vagina.

Oleh bude Erie saya di-striping untuk mempercepat bukaan. Alhasil malam itu saya ga bisa tidur nyenyak lagi karena kontraksi datang serajin malam sebelumnya.

30 Mei 2013 (HPL+6)

Hari itu bude Erie ada agenda untuk visit pasien home birth-nya. Jadi pagi-pagi sudah ke klinik dan VT saya lagi. Alhamdulilah bukaan bertambah jadi 2cm. Kami sempat ngobrol bertiga sama suami juga, bude Erie minta saya tanya ke baby Raya mau lahir jam berapa. Suami yang nyahut, pengennya sore karena menurut hitungan jawa setelah solat Asar sudah masuk besok dan suami pengen baby Raya lahir malam jumat kliwon. Ah ada-ada saja. Saya sudah tidak peduli hari apa, jam berapa, yang penting Raya cepet lahir.

Setelah bude Erie pergi, dengan ditemani suami menonton tv saya menikmati kontraksi yang semakin nikmat. Sesekali mba Ririn dan mba Rida cek jantung bayi dengan doppler.

Pukul 14.00

Saya mulai mengeluarkan lendir disertai sedikit darah. Cek VT lagi, Alhamdulilah bukaan maju jadi 5cm. Selama kontraksi saya dibebaskan ngapain aja jika itu bisa mengurangi nyerinya. Saya sih tetap senang diusap-usap pinggang bawahnya. Tapi sempat juga pake gaya nyender ditembok :D. Oia, saat itu saya diberi cairan isotonik sama bude yang entah dari apa. Dan terasa sekali kepala semakin turun, sampai saya reflek menunduk seperti mau merangkak.

Pukul 16.15

Dari vagina saya keluar cairan bening cukup banyak yang saya juga ga tau cairan apa. Setelah itu muncul tekanan yang kuat hingga ada rasa ingin mengejan dari jalan depan dan belakang. Ini yang tidak saya prediksi, karena cerita-cerita yang saya dengar dan baca hanya menyebutkan rasa mengejannya seperti mau pup yang saya kira cuma tekanan di jalan belakang. Tapi ternyata beda..:D.

Saya mulai panik dan minta diijinkan nyemplung kolam. Sembari kolam diisi air hangat, saya dipandu untuk afirmasikan “saya merasa nyaman dan tenang hingga bukaan lengkap dan kolam siap”. Saat kolam selesai diisi, saya di VT lagi dan bukaan sudah 7cm.

Nyeburlah saya kekolam dan Subhanalloh, rasa yang tidak nyaman berkurang bahkan hilang. Saya bisa kembali tenang dan konsentrasi untuk melahirkan Raya. Beberapa kali saya mengejan untuk menurunkan kepala baby dan sekitar 30menit kemudian kepala crowning. Saya sempat raba kepala baby dan sambil doa saya mengejan sekali lagi. Subhanalloh, kepala baby sudah terlihat sedikit, lebih banyak, dan akhirnya lahir seluruh kepalanya. Sebenarnya saya sudah minta babynya ditarik, tapi bude Erie menunggu sampai kepala baby muter sendiri baru kemudian ditarik.

Pukul 16.43

Akhirnya “Narendra Raya Utomo” lahir dengan berat 3,8kg dan tinggi 52cm. Setelahnya Raya langsung saya peluk sementara suami mengadzani. Masih ada tugas lagi buat saya, melahirkan adik plasenta Raya. Dibantu para bidan dan suami, saya pindah ke tempat tidur untuk melahirkan plasenta. Sekitar 15menit kemudian plasenta lahir dan mulailah saya dijahit perineumnya. Hihihi..

Sebenarnya robekan perineum bisa dicegah dengan pijat perineum. Saya sih sudah melakukan pijat perineum, tapi ga rajin ditambah obral mengejan yang bikin lebih banyak robekannya. Maklum, sudah ga sabar ketemu Raya :D.

Setelah semua selesai, sambil menyusui Raya saya ingat kalau duluuu waktu hamil muda saya pernah ngobrol dengan mama tentang HPL. Mama bilang “bisa jadi kamu lahiran pas ulang taun e papa” dan benar, Raya lahir tanggal 30 Mei 2013 tepat saat papa ulang tahun ke 55th. Jam lahirnya juga nurutin maunya suami, setelah solat Asar.

Sayangnya proses lahirnya raya tidak ada dokumentasinya. Padahal suami sudah siapin kamera dan tripod, cuma tinggal pencet aja. Tapi karena selama kontraksi saya maunya deket dan diusap-usap sama suami, jadilah lupa buat ngerekam. Lupa juga buat nitip ke mba Rida atau mba Ririn. Haha..

Terima kasih yang tak tehingga pada Alloh karena tanpa ijinNya saya mungkin tidak bisa melahirkan selancar ini. Pada bude bidan Erie Tiawaningrum dan timnya (mba Ririn & mba Rida), maaf kalo saya cerewet dan ‘heboh’ :D. Pada suamiku, yang sering saya omelin selama hamil sampai proses melahirkan. Dan terima kasih untuk Raya yang mau bekerjasama membuat pengalaman indah tentang kelahirannya. Luv yu all

Posted from WordPress for Android

Iklan

Kencan sama Dokter #10

Hari Senin 27 Mei 2013 atau HPL+3 saya kembali ke RSBK untuk periksa lagi dengan dr. Flora. Sejujurnya saya sudah malas kembali ke dokter karena ujung-ujungnya saya akan diminta untuk tinggal dan pasrah menerima induksi, tapi karena paginya saya mendapati lendir bening di celana dalam saya, jadinya saya harus kembali ketemu dengan dsog.

Seperti sebelumnya, setelah daftar bayar biaya dokter (Rp. 125.000,-) dulu baru kemudian ditimbang dan diukur tekanan darahnya. Tinggal antri diperiksa deh 🙂

Didalam ruang periksa, saya ceritakan keluhan-keluhan yang saya alami seperti tekanan yang kuat disekitar vagina dan punggung bawah terasa pegal. Saya juga ceritakan tentang lendir bening tadi. Untuk memastikan apakah proses persalinan sudah mulai atau belum, diputuskan untuk Vaginal Toucher atau Periksa Dalam oleh dr. Flora. Ternyata VT itu rasanya memang mak nyuuuusss. Ga bohong deh cerita-cerita yang pernah saya dengar dan saya baca :D. Dan hasil VTnya adalah kepala bayi sudah turun sekali tapi belum ada pembukaan. Oleh doker saya disarankan untuk melakukan rekam jantung janin. Baiklaaaah..

Bayar dulu dikasir (Rp. 100.000,-) dan kemudian antri lagii. Lama perekaman jantung ini adalah 20menit dan alatnya cuma satu! Lumayan juga antri saya kali ini karena ada 2 bumil yang sudah antri sebelum saya.

Saat mencari detak jantungnya, baby diperut sepertinya sengaja menjauhkan jantungnya dari kulit saya. Hebatnya, setelah saya ajak bicara dan saya bujuk untuk bekerjasama baby mau anteng deketin jantungnya untuk 20 menit. Dan setelah 20 menit, terlihat kalau baby menjauh lagi karena rekam detak jantungnya menurun lagi. Subhanalloh, pinternya anakkuu. Selesai dari situ, kembali lagi ke ruang dr. Flora. Antri lagi (fiuuuhhh)

Sambil baca hasil rekam jantung yang menunjukkan bayi masih nyaman didalam perut, dr. Flora meminta saya untuk langsung ke UGD untuk diinduksi. Noooo!!!

Saya tolak dengan alasan siklus mens yang tidak teratur dan HPL dari usg sebelumnya yang berubah-ubah. Akhirnya dr. Flora mengalah tapi saya harus usg lagi untuk memastikan kandisi bayi. Okeh, bayar lagi (Rp. 150.000,-) ke kasir dan antri lagi (-_-‘)

Oia, karena dr. Flora sepertinya memperhatikan sekali kondisi ketuban, jadi sambil antri saya rehidrasi terus. Dan setelah di usg, ketuban saya masih sangat cukup untuk menunda induksi. Berat bayi juga sudah bertambah menjadi +/- 3500gr. Satu lagi hasil usg yang beda, katanya posisi kepala memang sudah turun tetapi menengadah. Ga begitu ambil pusing dengan posisi kepalanya, yang penting ketuban cukup.

Saat kembali ke ruang dr. Flora, saya diijinkan pulang dan induksi bisa ditunda sampai hari Jumat atau tepat 41minggu.

Fiuh, lega saya..

Cepet lahir ya nak, biar ga diinduksi..

Posted from WordPress for Android

(nonton) Water Birth

Sabtu, 27 April 2013 kemarin saya mendapat pengalaman yang sangat luar biasa. Saya melihat secara langsung proses melahirkan alami dengan water birth di Klinik Mba Erie di Citayam. Pelajaran buat saya yang sangat penting untuk mempersiapkan kelahiran si baby diperut. Semua terjadi tidak direncanakan, pagi saya hanya mengontak mba Erie untuk yoga di kliniknya. Selesai yoga, sambil menunggu ojek  saya dan suami ngobrol banyak hal dengan mba Erie. Bukan Cuma obrolan seputan kehamilan dan kelahiran saja tetapi semua hal yang memang pengin kami obrolkan. Ini juga salah satu kelebihan mba Erie dengan nakes lain, ia menganggap klien-kliennya sebagai teman bahkan saudara. Rasanya jadi tenang dan nyaman ngobrol sama dia.

Eh ngelantur deh, mau cerita proses melahirkan kok sampe kemana-mana. Hihihihiiiii.

Jadi si ibu ini dateng Jumat malam dengan pembukaan 1, karena rumahnya jauh jadi memutuskan untuk stay di klinik. Paginya ibu ini di endorfin massage sama Mba Erie dan dipijat akupresur untuk mempercepat bukaan. Oia satu lagi, suaminya diminta untuk menyediakan nanas atau durian untuk induksi alami. Selama mba Erie yoga sama bumil lain termasuk saya, ibu ini nyaris tidak ada suaranya. Mungkin karena memang masih bisa ditahan rasa mulesnya. Sekitar jam 13.30 atau 14.00 saat saya masih ngobrol dengan mba Erie, kedengeran suara merintih dari si Ibu. Mba Erie langsung vt dan ternyata sudah bukaan 4. Setelah itu, saya ditinggal berdua sama suami karena mba Erie sudah siap-siap untuk persiapan melahirkan si ibu. Kolam mulai dipompa dan air mulai disiapkan. Sekitar 15 menit kemudian, si ibu sudah masuk ke kamar bersalin. Saya sempat ngelongok sebentar dan melihat si ibu masih diusap-usap pinggangnya oleh asisten mba Erie. Setelahnya saya tidak tahu prosesnya karena saya makan sama suami. Selesai makan, saya ngintip lagi, si ibu sudah masuk kekolam. Waow, sudah masuk kolam berarti bukaan sudah lengkap dan debay sudah siap untuk lahir. Cepat sekali kan bukaannya?! Ga perlu pake infus dan obat, cukup nanas 😀

Saat itu, saya lihat keinginan si ibu untuk mengejan kuat sekali. Setiap mules datang, dia bisa mengejan 2-3 kali. Cuma sepertinya si ibu ini kurang latihan nafas jadi nafasnya pendek-pendek. Si ibu udah muter-muter dari jongkok, duduk, jongkok lagi, duduk lagi, tapi kepala debay tetep ga mau keluar seluruhnya. Ada sekitar 20 menit kepala ini ga bertambah turun. Ibu udah keliatan panik dan capek ngeden. Si ibu duduk lagi, diminta untuk pegang kepala bayinya yang sudah keluar. Abis itu sepertinya ada recharge energi untuk ngeden, langsung jongkok dan memang kepala debay semakin turun walau belum keluar semua. Di sela kontraksi  si ibu ini makan nanas lagi. Dan mba Erie bilang ke si ibu untuk ambil nafas panjang, dorong di perut untuk melahirkan kepalanya. Pas jam 15.30 setelah adzan solat Ashar, akhirnya dengan posisi ibu  jongkok, kepala debay keluar semua diikuti dengan seluruh badannya dan langsung ditangkap asisten mba Erie (karena mba Erie jadi pegangan si ibu ngeden). Asistennya langsung bilang “ooo, kelilit ya dek. Makanya susah banget”. Dan saya, jangan ditanya lagi, langsung mewek sejadi-jadinya.

Waktu pertama diangkat dari air, si debay ga nangis kenceng kayak cerita-cerita yang pernah saya denger. Tapi merintih. Wajahnyapun terlihat letih. Ya, memang debay pasti juga capek mencari dan membuka jaln lahirnya sendiri dari malam sebelumnya. Saat diletakkan di dada ibunya untuk IMD, debay ini juga cuma merintih sambil mengatur nafasnya. Hebatnya, si ibu langsung terlihat segar setelah melihat debay. Oia, perineum ibu ini utuh lho. Eh saya udah bilang belum kalau ini VBAC (Vaginal Birth After Cesarian). Ya ibu ini pernah melahirkan sebelumnya melalui cesar.

Selesai observasi si ibu, mba Erie nyamperin saya lagi. Trus cerita kalau ibu ini baru datang saat usia hamilnya 34 minggu (debay lahir saat 39minggu) dan ngotot mau lahiran alami. Ibu ini Cuma diberitau tetangganya yang sukses VBAC di tempat Mba Erie juga. Padahal sebelumnya ibu ini tidak tahu apa itu gentle birth dan apa saja pemberdayaan diri yang harus dilakukan. Tapi nyatanya, ibu ini bisa melahirkan dengan cepat, normal dan minim trauma bahkan tanpa robekan perineum. Mba Erie juga menambah semangat saya dengan bilang, kalau ibunya dari hamil sudah melakukan pemberdayaan diri pasti proses melahirkannya lebih mudah dan cepat.

Jadi ayooooo nak kita jalan kaki, yoga, perineum massage, pelvic rocking biar lahirnya lancar dan sehat.

We can do it son :*

(satu lagi yang kelupaan, ojek yang udah janji jemput akhirnya ga dateng dan saya jadi pulang malem dianter mba Erie ke stasiun. Luvyu deh Mba :*)

Kencan sama Dokter #8

Setelah tiga kali daftar dan ga dapet nomer antrian, akhirnya hari ini saya antri juga buat usg di dr.Bob. Perjuangan si mas untuk dapet antrian luar biasa loh…

Berangkat daftar antri jam 5.45 pagi, pulang dulu. Jam 7.45 balik lagi buat setor buku. Dan sekarang jam 14 balik lagi sama saya untuk usg. Itupun masih tetep antri.

Memang luar biasa dokter yang satu ini. Setiap hari pasiennya bertambah. Dan setiap hari sepertinya semakin pagi jam untuk daftar antrinya. Suami saya yang berangkat tadi pagi sampai sini jam 6 kurang 10menit aja udah dapet antri nomer 13. Bayangin yang nomer 1 dateng jam berapa coba?!

Oia saat saya datang, pasiennya baru sampai antrian 9 dan ada yang mau melahirkan juga. Jadi ga tau jam berapa ni saya akan dipanggil. Biasanya sih sekitar 2jam-an baru nama saya dipanggil.

Kemarin-kemarin sempet kepikiran, kenapa saya sampai tiga kali ga dapet nomer antrian mungkin karena baby memang tidak mau lagi periksa kesini setelah main ke bude-bude bidan. Tapi suami tetap sabar memotivasi saya untuk ga nyerah. Kalau hari ini tidak dapet antrian, baru pindah cari dokter lain untuk usg. Alhamdulilah hari ini kebuka jalannya. Selain itu mungkin juga karena saya ajak baby untuk usg. Karena saya perlu tau kondisi dia saat ini. Ya berat badannya, ya ketubannya, ya posisinya.

Alhamdulilah baby tumbuh sesuai umurnya dan tidak ada komentar apa-apa dari dr. Bob. Memang dokter yang satu ini jarang sekali memberitahu kondisi janin pasiennya kalau tidak ditanya. Mungkin biar tidak bikin ibunya stress kali ya. Tapi waktu periksa kemarin saya tanya berat janinnya, karena banyak yang bilang perut saya gede banget dan bisa jadi bayinya kegedean. Katanya beratnya sudah 2146 gr dan masih normal.

Oia, selama ini setiap usg baby selalu nutupin wajahnya dengan 1 tangan. Jadi foto wajahnya kurang jelas. Tapi kemarin, selama antri saya ajak ngobrol baby supaya cari posisi yang paling bagus untuk difoto biar wajahnya keliatan semua. Dan benar, dia nurut kata saya. Waktu diusg tadi tangannya tidak lagi menutupi wajahnya tetapi seperti sedang bertopang dagu. Wajahnya terlihat jelas dan utuh.

Ini nih foto gantengnya baby 😀

Gambar

Pembedayaan diri vs Prosedur Standar

Masuk usia kehamilan 8 bulan (32 week) saya semakin semangat untuk memberdayakan diri dengan latihan-latihan dan kegiatan-kegiatan yang bisa menunjang untuk kelahiran normal. Setiap hari goyang inul dengan birthing ball, bahkan mengganti kursi dengan birthing ball (ini mah males pindah 😀 ). Setiap hari tetap ngeyel jalan kaki ke shelter busway meskipun sama suami udah dilarang-larang. Dengerin relaksasinya Mba Eva setiap mau tidur malam. Yoga dirumah dengan panduan dari Larra Dutta & Rana Lee yang saya download dari youtube. Latihan nafas saat pupy (belum tau juga siy bener atau ga-nya, Cuma katanya mengejan saat melahirkan tehniknya mirip sama mengejan kalau pupy). Selain itu mungkin seperti yang mom-to-be lain lakukan yah, seperti kaki diganjal bantal untuk mengurangi bengkak, menahan diri biar badan ga semakin melebar dan babynya jadi over weight.

Semua saya lakukan untuk mencapai impian saya, melahirkan secara normal dan gentle.

Tapi disamping optimisme saya itu, ada sedikit ketakutan dan keraguan. Gimana kalau baby mau lahir di Jakarta sementara saya tidak sempet ke klinik  Mba Erie di Citayam. Akankah semua usaha saya sia-sia karena saya harus melahirkan di rumah sakit terdekat yang sudah punya prosedur sendiri.

Banyak teman cerita tentang proses melahirkan di rumah sakit-rumah sakit besar dan favorit di Jakarta. Baik dibantu dokter ternama maupun dengan dokter yang jarang terdengar :p. Ada yang cerita ketubannya rembes trus langsung dicesar, padahal kan dari ilmu-ilmu yang saya dapat dari bidankita.com dan GBUS ketuban masih bisa diselamatkan dengan terus rehidrasi. Tapi yang rumah sakit bilang, harus segera dicesar keburu ketubannya habis. Cerita lain bilang kalau perineum harus digunting untuk mempercepat bayi lahir. Ada juga yang “kehilangan” bayinya setelah dilahirkan, padahal iklannya rumah sakit tersebut pro IMD. Ada yang sudah bukaan 4, menyerah ke meja cesar karena perawat/ bidannya bilang “ibu kuat tidak? Ini baru bukaan 4 lho Bu. Masih lama sampai bukaan 10, cesar saja bu biar cepat dan tidak sakit” haduuuuh, ini tenaga kesehatan kok malah ngeracunin. Prosedur lainnya ada yang langsung pasang infus yang entah untuk apa, tapi yang pasti infus tersebut menghambat mobilisasi si ibu dan mungkin menyebabkan pembukaan menjadi lebih lambat. Dan segala cerita-cerita tidak enak tentang rumah sakit.

Sampai hari ini sih saya terus bertanya pada baby mau lahir dimana dan kapan. Cuma saya belum dapat jawaban jelas dari baby (atau saya yang kurang peka ya :D), jadi saya afirmasikan sama baby untuk memilih hari lahirnya selain tanggal 9 dan 10 Mei yang saya rencanakan untuk perjalanan pulang ke Solo.

Semoga baby mau bekerja sama dengan dan impian saya bisa terwujud.

Oia, untuk pembaca blog ini mohon diambil yang baik saja dan yang buruk dibuang. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan standar pelayanan rumah sakit. Tulisan ini hanya sarana menumpahkan kegalauan saya sendiri saja, seperti tagline blog ini “my way to say the unspoken word” 😀

Yiey..

Saya percaya setiap orang memang punya rejekinya masing-masing. Termasuk bayi yang masih ada di kandungan sekalipun. Alhamdulilah baby saya dapat rejeki lungsuran baju bayi dari Bude Ika & Mas Iban, lumayaaaaan ga usah beli baju lagi.

image

wpid-1364560317149.jpg

Oia, saya juga di-lungsuri stroller lhooo..

Hihiiii,,masih dilipet karena yang mau pake masih didalem perut.

 

 

 

 

 

 

Dapet bantal menyusui dan appronnya juga…

image

alhamdulilah yah…:)

 

Posted from WordPress for Android

Shopping Nakes

Seharusnya tulisan ini judulnya “kencan dengan dokter #8” tapi karena satu dan lain hal, sampai minggu ke-30 ini saya belum ke dokter lagi. Padahal kalau nurut paspor ibu yang saya dapat dari klinik HOHC, seharusnya saya sudah kontrol 2 minggu sekali untuk memantau perkembangan baby.

Memasuki bulan ketujuh (28w) kehamilan, saya sudah mulai mempersiapkan birth plan untuk baby. Sesuai permintaan papa, saya akan melahirkan di Solo. Tapi waktu cuti saya kan terbatas dan saya ingin lebih banyak waktu saya untuk babymoon, makanya saya rencanakan cuti mulai 2minggu sebelum HPL. Setiap telepon, Mama selalu merekomendasikan dsog-dsog di Solo disertai dengan cerita pengalaman kelahiran kenalan/ teman mama. Tapi sejak saya belajar tentang gentle birth, saya punya keinginan untuk melahirkan dibantu bidan saja. Selain bidan pasti lebih sabar, saya dapat cerita dari teman dekat di Solo yang baru melahirkan. Jadi usia kehamilannya sudah 41w (HPL+7), kontrol kedokter langsung ditanya mau induksi atau cesar. Dengan penjelasan sang dokter yang menyatakan jika induksi sekian jam tidak berhasil maka akan dilakukan bedah cesar juga, akhirnya teman saya memutuskan untuk langsung cesar karena menurutnya sama saja, hasil akhirnya akan cesar-cesar juga. Yah memang tidak semua dokter seperti itu, tapi kembali ke keterbatasan waktu yang saya punya untuk shopping nakes di Solo, saya mulai merayu mama untuk mengijinkan saya melahirkan di Bidan Kita dengan Bidan Yesie di Klaten dengan water birth. Awalnya seperti ibu lain, mama juga bilang ga usah aneh-aneh, yang normal saja, dideket rumah aja ada dokter bagus kok (jarak rumah mama ke Bidan Kita kurang lebih 2 jam perjalanan). Huft, baiklah..saya sudahi telpon saat itu, daripada malah saya stress. Setelah itu, saya giat mengumpulkan cerita-cerita persalinan dengan water birth dan cerita-cerita melahirkan yang dibantu bidan Yesie. Maksudnya untuk merayu mama :D. Saat tujuh bulanan di Solo, saya niatkan untuk ketemu Bu Yesie walaupun diijinkan atau tidak. Tapi alhamdulilah, waktu saya minta ijin mau ke Klaten, mama langsung mengijikan.

Setelah ketemu Bu yesie bukan berarti shopping nakes saya selesai. Karena melahirkan itu ga tau kapan terjadinya, maka saya juga harus persiapkan nakes di Jakarta untuk membantu kelahiran baby. Saya tanya ke Mba Evariny, saya cari di GBUS, saya cari di blog-blog tentang water-gentle birth. Alhamdulilah saya dapat 2 bidan. Ada Mba Yulie (@yuliemecanik) di Tambun dan Mba Erie di Citayam. Karena pertimbangan transportasi, saya ke Mba Erie di Citayam karena lebih mudah dijangkau kendaraan umum. Saya ke Citayam hari Sabtu saat ada ANC & yoga. Banyak juga yang ikut yoga, ada 7 orang bumil termasuk saya yang yoga hari itu. Alahmdulilah saya juga langsung “klik” dengan Mba Erie, saya suka caranya menyapa baby diperut, saya suka caranya membalas whatsapp saya, saya suka cerita-ceritanya tentang proses kelahiran. Semua bikin saya nyaman dengan Mba Erie.

Sepertinya untuk nakes saya sudah siap baik di Solo maupun di Jakarta, tinggal persiapkan mental dan tubuh saya agar persalinan impian saya yang nyaman, lancar dan water birth dapat terwujud.