sebelum ANC…

setelah testpack yang hasilnya dua garis, saya berencana usg ke dokter kandungan 2minggu setelahnya. maksudnya sih biar udah keliatan kantong kehamilan atau janinnya kalau memang beneran saya hamil. tapi saya pikir-pikir, kalau kelamaan kasian si adik jadi telat dapet vitamin-vitamin tambahan untuk pertumbuhannya. yah sebenernya saya tau kalau gizi yang dibutuhkan untuk janin bisa didapat dari makanan yang saya konsumsi, tapi hamil kali ini mulut saya bawaannya ngunyah cemilan yang gizinya entah ada atau ga.

jadi setelah minta pertimbangan suami, akhirnya saya mau periksa ke dokter kandungan. pertanyaan berikutnya, kemana dan kesiapa periksanya?

ini nih yang bikin saya rajiiin banget pantengin hp 😁. cuma ya kalau dibandingin waktu hamil di Jakarta, informasi dsog yang saya dapet ga sebanyak dulu. mungkin karena orang Solo belum banyak yang sharing ke blog dibanding mahmud-mahmud di jakarte sono. hehehehee

dari hasil baca di blog, di forum online, sama nanya-nanya ke beberapa temen dapetlah beberapa nama dsog yang bisa dikunjungi. kenapa keliatan ribet banget? karena saya mau ketemu dsog yang “cerewet”, bukan yang cuma usg trus kasih resep.

nama pertama yang saya dapet adalah dr. Murti di RS. Kustati karena ada seorang temen yang ingin melahirkan VBAC, sudah bukaan 8 tapi kepala bayi masih belum turun dan dr. Murti belum memutuskan untuk sc. walau akhirnya teman saya ini sc juga tapi menurut saya dokter ini pro normal.

berikutnya dr. cicik di Yarsis, ini juga saran dari seorang teman yang melahirkan dibantu beliau. katanya dr. Cicik ini sangat pro normal *entah kenapa juga bisa dibilang begitu :mrgreen:

kalau dari internet, saya kantongi nama dr. Erlina di apotik jamsaren, dr. aji di hermina, dan beberapa nama dokter yang cuma disebut sekali dua kali dalam forum bumil.

awalnya saya hanya membatasi pada dokter perempuan, tapi dari riset kecil tersebut saya merasa sreg dengan dsog laki-laki. untung suami mengijinkan periksa ke dokter tersebut. siapa dia???

*see you on next post 😉

Iklan

adik datang..

yupp, adiknya Raya sudah datang di rahim saya sekarang. alhamdulillah..

kehamilan yang tidak diduga. suami memang pengin nambah anak dalam waktu dekat, tapi saya penginnya setelah wisuda baru hamil. biar satu-satu mikirnya :mrgreen:. tapi ternyata adik sudah datang duluan sebelum tesisnya selesai. atau mungkin memang Alloh kasih rejeki hamil biar saya ngebut nyelesain tesis ya?

yang bikin saya takjub adalah Raya. mungkin dia sudah merasakan kalau adiknya datang. Raya berubah jadi perhatian, misalnya kalau saya batuk Raya akan elus punggung saya sambil bilang “nggak pa pa ya, nanti diuap ya mami”😁. pun ketika pertama kali ke dokter untuk memastikan saya hamil atau tidak. ketika saya berbaring untuk usg, Raya sampai berdiri mendekat lihat maminya diapakan. oya, sama sekarang Raya bisa menerima kalau ada adik yang akan lahir. padahal sebelumnya tiap disinggung tentang punya adik, Raya langsung berubah jadi bayi lagi. yang minta gendong, minta nenen, merangkak dan kegiatan bayi lainnya.

saat ini adik sudah berusia 10 minggu dikandungan. dan dalam waktu 30 minggu kedepan masih harus kembali mempersiapkan mau lahiran dimana dan dibantu siapa karena setelah melahirkan Raya dulu, kami sekeluarga pindah ke Karanganyar (Solo). jadi harus shopping nakes lagi, cari yang cocok dihati, cari yang cocok sama adik, cari yang cocok sama birth plan, dan berjodoh membantu adik lahir kelak.
231016 – stephia

Sumber bening o…

Sumber bening ora bakal golek timba

Arti : Sumur yang jernih tidak akan pernah mencari timba. Tidak akan menyia-nyiakan waktu hanya untuk mencari jabatan, namun jika diserahi tanggung jawab atas jabatan tertentu maka amanat itu harus dilaksanakan sebaik-baiknya.

-sepatu dahlan-

Penambahan status baru : Ibu dari Narendra Raya Utomo

Sejak masuk usia kehamilan 37minggu, saya sudah mulai melakukan induksi alami agar proses persalinan segera terjadi karena sudah tidak sabar ingin peluk dan cium baby Raya. Induksi yang saya lakukan adalah berjalan kaki sejauh dan sekuat saya, makan nanas/ minum jus nanas, pelvic rocking setiap saat, pasang aromaterapi jasmine, pijat endorphine dan pijat akupressure. Tapi sepertinya baby Raya masih betah didalem perut karena sampai HPL tanggal 24 Mei 2013 saya masih belum merasakan apa-apa.

27 Mei 2013 (HPL+3)

Setelah jalan pagi seperti biasa, saya mendapati lendir bening yang cukup banyak dicelana dalam. Kontraksi juga mulai terasa walaupun bukan mules tetapi pegal di bawah pinggang belakang. Sorenya saya cek ke dokter dan di-VT, katanya belum ada bukaan tetapi kepala sudah sangat turun. Sebenarnya saat itu juga saya diminta untuk induksi, tetapi setelah dicek kesejahteraan janinnya, saya diperbolehkan melanjutkan kehamilan ini sampai 41w.

28 Mei 2013 (HPL+4)

Untuk menghindari induksi RS dan atas saran dari bude bidan Erie, saya dan suami berhubungan agar prostaglandin yang ada di sperma bisa melunakkan mulut rahim dan terjadi pembukaan. Memang dari sekian cara induksi alami, cuma cara ini yang belum kami coba. Dan ternyata memang cara induksi ini yang manjur buat saya. Malamnya saya tidak bisa tidur nyenyak karena kontraksi sudah semakin sering dan semakin kuat. Suami sudah ngajakin kerumah bude Erie malam itu juga, tapi saya tolak karena masih bisa menahan kontraksinya.

29 Mei 2013 ( HPL+5)

Pagi-pagi setelah solat Subuh, suami langsung cari taksi dan kamipun meluncur ke Citayam yang makan waktu sekitar 2 jam dari rumah. Selama perjalanan tangan suami sudah stand by di pinggang saya, jadi kalau kontraksi datang langsung ngusek-usek pinggang :D. Sampai di klinik, langsung dicek kontraksinya sama mba Ririn (asisten bidan). Saat itu mba Ririn bilang “kayaknya masih lama ini lahirnya si dedek”. Waktu saya tanya kenapa katanya karena saya masih bisa bercanda. Haha..

Setelah memandu yoga bude Erie datang dan menawari VT, tapi saya masih trauma dengan VT sebelumnya di RS jadi saya minta nanti saja. Sehari itu saya lebih banyak tidur untuk balas dendam waktu tidur saya dimalam sebelumnya sambil sesekali kontraksi ringan dan tetap konsumsi nanas. Sorenya sebelum menolong persalinan, bude Erie menawari untuk VT. Kali ini saya oke-in karena saya juga penasaran. VT sama bude Erie rasanya jauh lebih nyaman karena saya dipandu untuk nafas dan diberi aba-aba. Tidak seperti sebelumnya yang tiba-tiba ada jari masuk ke vagina.

Oleh bude Erie saya di-striping untuk mempercepat bukaan. Alhasil malam itu saya ga bisa tidur nyenyak lagi karena kontraksi datang serajin malam sebelumnya.

30 Mei 2013 (HPL+6)

Hari itu bude Erie ada agenda untuk visit pasien home birth-nya. Jadi pagi-pagi sudah ke klinik dan VT saya lagi. Alhamdulilah bukaan bertambah jadi 2cm. Kami sempat ngobrol bertiga sama suami juga, bude Erie minta saya tanya ke baby Raya mau lahir jam berapa. Suami yang nyahut, pengennya sore karena menurut hitungan jawa setelah solat Asar sudah masuk besok dan suami pengen baby Raya lahir malam jumat kliwon. Ah ada-ada saja. Saya sudah tidak peduli hari apa, jam berapa, yang penting Raya cepet lahir.

Setelah bude Erie pergi, dengan ditemani suami menonton tv saya menikmati kontraksi yang semakin nikmat. Sesekali mba Ririn dan mba Rida cek jantung bayi dengan doppler.

Pukul 14.00

Saya mulai mengeluarkan lendir disertai sedikit darah. Cek VT lagi, Alhamdulilah bukaan maju jadi 5cm. Selama kontraksi saya dibebaskan ngapain aja jika itu bisa mengurangi nyerinya. Saya sih tetap senang diusap-usap pinggang bawahnya. Tapi sempat juga pake gaya nyender ditembok :D. Oia, saat itu saya diberi cairan isotonik sama bude yang entah dari apa. Dan terasa sekali kepala semakin turun, sampai saya reflek menunduk seperti mau merangkak.

Pukul 16.15

Dari vagina saya keluar cairan bening cukup banyak yang saya juga ga tau cairan apa. Setelah itu muncul tekanan yang kuat hingga ada rasa ingin mengejan dari jalan depan dan belakang. Ini yang tidak saya prediksi, karena cerita-cerita yang saya dengar dan baca hanya menyebutkan rasa mengejannya seperti mau pup yang saya kira cuma tekanan di jalan belakang. Tapi ternyata beda..:D.

Saya mulai panik dan minta diijinkan nyemplung kolam. Sembari kolam diisi air hangat, saya dipandu untuk afirmasikan “saya merasa nyaman dan tenang hingga bukaan lengkap dan kolam siap”. Saat kolam selesai diisi, saya di VT lagi dan bukaan sudah 7cm.

Nyeburlah saya kekolam dan Subhanalloh, rasa yang tidak nyaman berkurang bahkan hilang. Saya bisa kembali tenang dan konsentrasi untuk melahirkan Raya. Beberapa kali saya mengejan untuk menurunkan kepala baby dan sekitar 30menit kemudian kepala crowning. Saya sempat raba kepala baby dan sambil doa saya mengejan sekali lagi. Subhanalloh, kepala baby sudah terlihat sedikit, lebih banyak, dan akhirnya lahir seluruh kepalanya. Sebenarnya saya sudah minta babynya ditarik, tapi bude Erie menunggu sampai kepala baby muter sendiri baru kemudian ditarik.

Pukul 16.43

Akhirnya “Narendra Raya Utomo” lahir dengan berat 3,8kg dan tinggi 52cm. Setelahnya Raya langsung saya peluk sementara suami mengadzani. Masih ada tugas lagi buat saya, melahirkan adik plasenta Raya. Dibantu para bidan dan suami, saya pindah ke tempat tidur untuk melahirkan plasenta. Sekitar 15menit kemudian plasenta lahir dan mulailah saya dijahit perineumnya. Hihihi..

Sebenarnya robekan perineum bisa dicegah dengan pijat perineum. Saya sih sudah melakukan pijat perineum, tapi ga rajin ditambah obral mengejan yang bikin lebih banyak robekannya. Maklum, sudah ga sabar ketemu Raya :D.

Setelah semua selesai, sambil menyusui Raya saya ingat kalau duluuu waktu hamil muda saya pernah ngobrol dengan mama tentang HPL. Mama bilang “bisa jadi kamu lahiran pas ulang taun e papa” dan benar, Raya lahir tanggal 30 Mei 2013 tepat saat papa ulang tahun ke 55th. Jam lahirnya juga nurutin maunya suami, setelah solat Asar.

Sayangnya proses lahirnya raya tidak ada dokumentasinya. Padahal suami sudah siapin kamera dan tripod, cuma tinggal pencet aja. Tapi karena selama kontraksi saya maunya deket dan diusap-usap sama suami, jadilah lupa buat ngerekam. Lupa juga buat nitip ke mba Rida atau mba Ririn. Haha..

Terima kasih yang tak tehingga pada Alloh karena tanpa ijinNya saya mungkin tidak bisa melahirkan selancar ini. Pada bude bidan Erie Tiawaningrum dan timnya (mba Ririn & mba Rida), maaf kalo saya cerewet dan ‘heboh’ :D. Pada suamiku, yang sering saya omelin selama hamil sampai proses melahirkan. Dan terima kasih untuk Raya yang mau bekerjasama membuat pengalaman indah tentang kelahirannya. Luv yu all

Posted from WordPress for Android

Kencan sama Dokter #10

Hari Senin 27 Mei 2013 atau HPL+3 saya kembali ke RSBK untuk periksa lagi dengan dr. Flora. Sejujurnya saya sudah malas kembali ke dokter karena ujung-ujungnya saya akan diminta untuk tinggal dan pasrah menerima induksi, tapi karena paginya saya mendapati lendir bening di celana dalam saya, jadinya saya harus kembali ketemu dengan dsog.

Seperti sebelumnya, setelah daftar bayar biaya dokter (Rp. 125.000,-) dulu baru kemudian ditimbang dan diukur tekanan darahnya. Tinggal antri diperiksa deh 🙂

Didalam ruang periksa, saya ceritakan keluhan-keluhan yang saya alami seperti tekanan yang kuat disekitar vagina dan punggung bawah terasa pegal. Saya juga ceritakan tentang lendir bening tadi. Untuk memastikan apakah proses persalinan sudah mulai atau belum, diputuskan untuk Vaginal Toucher atau Periksa Dalam oleh dr. Flora. Ternyata VT itu rasanya memang mak nyuuuusss. Ga bohong deh cerita-cerita yang pernah saya dengar dan saya baca :D. Dan hasil VTnya adalah kepala bayi sudah turun sekali tapi belum ada pembukaan. Oleh doker saya disarankan untuk melakukan rekam jantung janin. Baiklaaaah..

Bayar dulu dikasir (Rp. 100.000,-) dan kemudian antri lagii. Lama perekaman jantung ini adalah 20menit dan alatnya cuma satu! Lumayan juga antri saya kali ini karena ada 2 bumil yang sudah antri sebelum saya.

Saat mencari detak jantungnya, baby diperut sepertinya sengaja menjauhkan jantungnya dari kulit saya. Hebatnya, setelah saya ajak bicara dan saya bujuk untuk bekerjasama baby mau anteng deketin jantungnya untuk 20 menit. Dan setelah 20 menit, terlihat kalau baby menjauh lagi karena rekam detak jantungnya menurun lagi. Subhanalloh, pinternya anakkuu. Selesai dari situ, kembali lagi ke ruang dr. Flora. Antri lagi (fiuuuhhh)

Sambil baca hasil rekam jantung yang menunjukkan bayi masih nyaman didalam perut, dr. Flora meminta saya untuk langsung ke UGD untuk diinduksi. Noooo!!!

Saya tolak dengan alasan siklus mens yang tidak teratur dan HPL dari usg sebelumnya yang berubah-ubah. Akhirnya dr. Flora mengalah tapi saya harus usg lagi untuk memastikan kandisi bayi. Okeh, bayar lagi (Rp. 150.000,-) ke kasir dan antri lagi (-_-‘)

Oia, karena dr. Flora sepertinya memperhatikan sekali kondisi ketuban, jadi sambil antri saya rehidrasi terus. Dan setelah di usg, ketuban saya masih sangat cukup untuk menunda induksi. Berat bayi juga sudah bertambah menjadi +/- 3500gr. Satu lagi hasil usg yang beda, katanya posisi kepala memang sudah turun tetapi menengadah. Ga begitu ambil pusing dengan posisi kepalanya, yang penting ketuban cukup.

Saat kembali ke ruang dr. Flora, saya diijinkan pulang dan induksi bisa ditunda sampai hari Jumat atau tepat 41minggu.

Fiuh, lega saya..

Cepet lahir ya nak, biar ga diinduksi..

Posted from WordPress for Android

HPL oh HPL

HPL atau Hari Perkiraan Lahir adalah tanggal perkiraan kapan bayi didalam kandungan akan lahir. Biasanya dihitung dari HPHT (Hari Pertama Mens Terakhir) dan perhitungan ini berlaku untuk wanita yang siklus menstruasinya 28 hari. Karena saya salah seorang wanita istimewa (hehe), siklus mens saya suka-suka. Kadang pas 28 hari, kadang lebih panjang, kadang ga mens juga :D. Perhitungannya, di hari pertama mens itulah dianggap konsepsi/ pembuahan terjadi, padahal kan ga mungkin mau berhubungan sutri ya, secara lagi mens gitu. Makanya HPL dihitung 40minggu dari HPHT kemudian  masa suburnya 2minggu setelah siklus mentruasi, jadi bayi lahir saat usianya sekitar 38minggu setelah pembuahan.

Nah gimana dengan saya? HPHT memang saya catat, tapi karena siklus yang ga teratur itu HPHT saya ga bisa jadi patokan HPL. Jadi HPLnya dilihat dari ukuran janin saat USG. Duluuuuu banget waktu pertama kali periksa USG ke dr. Dyah di YPK, HPL saya 20 Mei 2013. Karena dr. Dyah cuti melahirkan, USG kedua saya ke dr. Rima di YPK juga HPLnya berubah ke 27 Mei 2013. USG yang ketiga masih di dr. Rima, HPL berubah lagi ke tanggal 25 Mei 2013. Setelah itu saya pindah ke dr. Bob di HOHC karena pengen USG 4D. Di mesin USG dr. Bob tertulis HPL saya 24 Mei 2013. Hmmm, berubah-ubah terus ya. Akhirnya buat patokan saya sendiri, saya anggap 24 Mei 2013 ini sebagai HPL si baby dalam perut.

Hari ini tanggal 24 Mei 2013. Berarti HPL saya hari ini donk!!!

Tapi saya kok masih anteng-anteng aja dirumah. Kontraksi palsu juga masih belum kebayang kayak apa rasanya. Tapi perut sering banget kenceng-kenceng. Terakhir nanya ke dokter, kontraksi itu rasanya seperti apa? Kata dokter, rasanya seperti mau pup dan mules-mules. Hmm, saya kok juga ga ngerasain gitu ya. Dan kenceng-kenceng di perut yang saya rasain itu katanya bukan kontraksi. Saat yoga di bidan, saya nanya apa ada kemungkinan kesamaan antara ibu saya saat hamil saya dulu dengan saya sendiri hamil sekarang ini. Jawabnya YA. Haduh padahal cerita ibu saya, dulu saya itu dibilang ga mau lahir hingga lewat HPL dan akhirnya dipaksa lahir dengan vakum. Mengingat itu saya tambah lagi afirmasi positif untuk proses kelahiran nanti, “saya mampu melahirkan normal alami”. Fyi, 3 kali ibu saya hamil – melahirkan, semuanya lewat dari HPL. Kata ibu saya juga, 3 kali beliau melahirkan normal tidak pernah merasakan mulas saat mendekati proses kelahiran. Nah lo!!  Bingung lagi deh, apa patokan yang saya pegang untuk menentukan kapan berangkat ke Nakes dan melahirkan si baby ini.

Ah, sudahlah..

Biarin aja HPL lewat. Namanya juga PERKIRAAN, bisa tepat bisa juga meleset. Saya menganggapnya sebagai proses dimana saya masih harus lebih sabar lagi, lebih rajin lagi olah raga, lebih teliti lagi perhatikan gerakan bayi, lebih rajin induksi alami, lebih sering ngobrol sama baby dan juga lebih pasrah ke Alloh. Oia satu lagi, karena saya adalah wanita istimewa seperti ibu saya 😉

Kencan sama Dokter #9

Kali ini dateng ke dokter lagi dengan terpaksa. Saya terpaksa ke dokter lagi karena terpengaruh lingkungan. Ya lingkungan, karena lingkungan saya yang pada ribut nanya “ kapan lahir?”, “sudah lahir belum?”, “HPL kapan?”, dan segala pertanyaan dari sekitar yang buat saya semakin galau. Apakah benar bayi saya baik-baik saja diperut?, apakah ketubannya masih bagus?, apakah ada lilitan tali pusat yang bikin bayi susah turun?, atau berat bayi saya terlalu besar? Ah, tiba-tiba ada banyak kenapa dikepala saya. Jadi saya putuskan untuk ke dokter lagi untuk USG memastikan kesejahteraan janin saya.
Oia, saya tidak lagi ke dr. Bob di Harmoni. kenapa? Karena usia kehamilan saya sudah 39minggu, dan seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya kalau dr. Bob memakai patokan 9bulan 10hari sebagai lama waktu hamil atau kira-kira 37minggu. Saya takut kalau periksa kesana langsung ditahan untuk tidak boleh pulang dan langsung diminta untuk induksi. Hehehe, agak kePDan juga siy sebenarnya. Tapi buat saya, lebih baik mencegah daripada kejadian beneran.. 😀
Kemana saya periksa kali ini? Kembali ke YPK Menteng? Ga tuh! Kali ini saya nurut suami untuk periksa ke Rumah Sehat Budi Kemuliaan (RSBK). Suami ngajakin kesana karena banyak kenalan yang menyarankan untuk bersalin di RSBK. Baiklah, saya pikir jarak RSBK dekat dengan rumah jadi bisa untuk berjaga-jaga jika terjadi keadaan emergency dan buat saya tidak masalah periksa dengan dokter siapa yang penting perempuan. Cukup dr. Bob saja yang liat-liat perut saya ;). Dan disarankan periksa ke dr. Flora H (H-nya siapa saya lupa :D).
Prosedur periksa di RSBK mirip seperti di RS lain. Pertama ya daftar dulu untuk dapat antrian dan menentukan dengan dsog siapa mau periksa. Trus kekasir bayar biaya periksa (Rp. 125.000,-)dan biaya administrasi (Rp. 5.000,-). Setelah itu saya ditimbang dan ditensi, ada yang beda disini. Saya diwawancara oleh suster tentang riwayat kesehatan saya, seperti golongan darah, pernah operasi, penyakit bawaan, riwayat kembar, HPHT, dll. Habis itu baru ketemu sama dokternya. Dr. Flora ini seperti dr. Rima Irwinda di YPK, kalo ga ditanya ya diem aja. Untungnya saya sudah siapkan banyak pertanyaan dari rumah untuk menjawab rasa penasaran saya. Nah, ada yang beda juga di ruang periksa RSBK, kalo biasanya diruang periksa langsung ada alat USG, disini ga ada. Jadi cara dokternya meriksa kayak bidan, pake meteran untuk ukur tinggi fundus dan langsung pegang perut untuk melihat posisi janin sama doppler untuk cek detak jantung janin. Alhamdulilah, janin posisinya tidak berubah. Kepala tetap dibawah, sudah masuk panggul dan detak jantungnya normal. Baru habis itu ditawarin untuk USG, jadi disini periksa hamil tidak selalu diUSG. Karena untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas perlu USG, baiklah USG sekalian deh biar ga penasaran. Ternyata kalo mau USG harus bayar dulu (Rp. 150.000,-) dan antri lagi karena alat USGnya ada diruangan terpisah dan digunakan bergantian oleh dsog yang praktek sore itu. Agak aneh ya untuk sebuah rumah sehat khusus ibu dan anak. Ya sudahlah, kalo ga gitu ga tau kan gimana RSBK dan ga bisa berbagi ke pembaca blog ini :D.
Antri yang kedua ini cukup lama, karena yang pakai USGnya bukan Cuma 1 dsog saja. Ga inget juga ada berapa banyak bumil yang antri USG. Oia, saya pikir sonographer (bener ya namanya?) atau yang periksa USG ini orang lain, maksudnya bukan dr. Flora. Eh ternyata tetep dr. Flora yang usek-usek perut saya pake setrikaan itu :D. sambil ngusek-usek perut, dr. Flora bilang kondisi janin saya. Posisi kepala dibawah, sudah masuk panggul, plasenta bagus, ketuban cukup, berat janin +/- 3300gr, dll. Di ruang USG tidak ada meja kursi seperti di ruang periksa, jadi untuk ngobrol lagi dengan dokternya harus antri lagi ke ruang periksa. Huft, ribet betul ya….
Setelah antri dan jajan :D, saya dipanggil lagi ke ruang periksa. Dr. Flora menyampaikan hasil USG tadi secara lebih manusiawi, bukan bahasa kedokteran yang saya ga ngerti. Cuma yang saya lupa tanyain, apa janin saya ada lilitan. Moga-moga ga ada ya nak, semua sehat dan normal. Akhirnya, seperti prosedur periksa kedokter lainnya, saya dikasi resep multivitamin Folamil Genio dan penambah darah. Dan seperti biasa juga tidak saya tebus resepnya di RSBK tapi saya beli di Tanah Abang. Hehe.