Beranda » My Story » Penambahan status baru : Ibu dari Narendra Raya Utomo

Penambahan status baru : Ibu dari Narendra Raya Utomo

Sejak masuk usia kehamilan 37minggu, saya sudah mulai melakukan induksi alami agar proses persalinan segera terjadi karena sudah tidak sabar ingin peluk dan cium baby Raya. Induksi yang saya lakukan adalah berjalan kaki sejauh dan sekuat saya, makan nanas/ minum jus nanas, pelvic rocking setiap saat, pasang aromaterapi jasmine, pijat endorphine dan pijat akupressure. Tapi sepertinya baby Raya masih betah didalem perut karena sampai HPL tanggal 24 Mei 2013 saya masih belum merasakan apa-apa.

27 Mei 2013 (HPL+3)

Setelah jalan pagi seperti biasa, saya mendapati lendir bening yang cukup banyak dicelana dalam. Kontraksi juga mulai terasa walaupun bukan mules tetapi pegal di bawah pinggang belakang. Sorenya saya cek ke dokter dan di-VT, katanya belum ada bukaan tetapi kepala sudah sangat turun. Sebenarnya saat itu juga saya diminta untuk induksi, tetapi setelah dicek kesejahteraan janinnya, saya diperbolehkan melanjutkan kehamilan ini sampai 41w.

28 Mei 2013 (HPL+4)

Untuk menghindari induksi RS dan atas saran dari bude bidan Erie, saya dan suami berhubungan agar prostaglandin yang ada di sperma bisa melunakkan mulut rahim dan terjadi pembukaan. Memang dari sekian cara induksi alami, cuma cara ini yang belum kami coba. Dan ternyata memang cara induksi ini yang manjur buat saya. Malamnya saya tidak bisa tidur nyenyak karena kontraksi sudah semakin sering dan semakin kuat. Suami sudah ngajakin kerumah bude Erie malam itu juga, tapi saya tolak karena masih bisa menahan kontraksinya.

29 Mei 2013 ( HPL+5)

Pagi-pagi setelah solat Subuh, suami langsung cari taksi dan kamipun meluncur ke Citayam yang makan waktu sekitar 2 jam dari rumah. Selama perjalanan tangan suami sudah stand by di pinggang saya, jadi kalau kontraksi datang langsung ngusek-usek pinggang😀. Sampai di klinik, langsung dicek kontraksinya sama mba Ririn (asisten bidan). Saat itu mba Ririn bilang “kayaknya masih lama ini lahirnya si dedek”. Waktu saya tanya kenapa katanya karena saya masih bisa bercanda. Haha..

Setelah memandu yoga bude Erie datang dan menawari VT, tapi saya masih trauma dengan VT sebelumnya di RS jadi saya minta nanti saja. Sehari itu saya lebih banyak tidur untuk balas dendam waktu tidur saya dimalam sebelumnya sambil sesekali kontraksi ringan dan tetap konsumsi nanas. Sorenya sebelum menolong persalinan, bude Erie menawari untuk VT. Kali ini saya oke-in karena saya juga penasaran. VT sama bude Erie rasanya jauh lebih nyaman karena saya dipandu untuk nafas dan diberi aba-aba. Tidak seperti sebelumnya yang tiba-tiba ada jari masuk ke vagina.

Oleh bude Erie saya di-striping untuk mempercepat bukaan. Alhasil malam itu saya ga bisa tidur nyenyak lagi karena kontraksi datang serajin malam sebelumnya.

30 Mei 2013 (HPL+6)

Hari itu bude Erie ada agenda untuk visit pasien home birth-nya. Jadi pagi-pagi sudah ke klinik dan VT saya lagi. Alhamdulilah bukaan bertambah jadi 2cm. Kami sempat ngobrol bertiga sama suami juga, bude Erie minta saya tanya ke baby Raya mau lahir jam berapa. Suami yang nyahut, pengennya sore karena menurut hitungan jawa setelah solat Asar sudah masuk besok dan suami pengen baby Raya lahir malam jumat kliwon. Ah ada-ada saja. Saya sudah tidak peduli hari apa, jam berapa, yang penting Raya cepet lahir.

Setelah bude Erie pergi, dengan ditemani suami menonton tv saya menikmati kontraksi yang semakin nikmat. Sesekali mba Ririn dan mba Rida cek jantung bayi dengan doppler.

Pukul 14.00

Saya mulai mengeluarkan lendir disertai sedikit darah. Cek VT lagi, Alhamdulilah bukaan maju jadi 5cm. Selama kontraksi saya dibebaskan ngapain aja jika itu bisa mengurangi nyerinya. Saya sih tetap senang diusap-usap pinggang bawahnya. Tapi sempat juga pake gaya nyender ditembok😀. Oia, saat itu saya diberi cairan isotonik sama bude yang entah dari apa. Dan terasa sekali kepala semakin turun, sampai saya reflek menunduk seperti mau merangkak.

Pukul 16.15

Dari vagina saya keluar cairan bening cukup banyak yang saya juga ga tau cairan apa. Setelah itu muncul tekanan yang kuat hingga ada rasa ingin mengejan dari jalan depan dan belakang. Ini yang tidak saya prediksi, karena cerita-cerita yang saya dengar dan baca hanya menyebutkan rasa mengejannya seperti mau pup yang saya kira cuma tekanan di jalan belakang. Tapi ternyata beda..:D.

Saya mulai panik dan minta diijinkan nyemplung kolam. Sembari kolam diisi air hangat, saya dipandu untuk afirmasikan “saya merasa nyaman dan tenang hingga bukaan lengkap dan kolam siap”. Saat kolam selesai diisi, saya di VT lagi dan bukaan sudah 7cm.

Nyeburlah saya kekolam dan Subhanalloh, rasa yang tidak nyaman berkurang bahkan hilang. Saya bisa kembali tenang dan konsentrasi untuk melahirkan Raya. Beberapa kali saya mengejan untuk menurunkan kepala baby dan sekitar 30menit kemudian kepala crowning. Saya sempat raba kepala baby dan sambil doa saya mengejan sekali lagi. Subhanalloh, kepala baby sudah terlihat sedikit, lebih banyak, dan akhirnya lahir seluruh kepalanya. Sebenarnya saya sudah minta babynya ditarik, tapi bude Erie menunggu sampai kepala baby muter sendiri baru kemudian ditarik.

Pukul 16.43

Akhirnya “Narendra Raya Utomo” lahir dengan berat 3,8kg dan tinggi 52cm. Setelahnya Raya langsung saya peluk sementara suami mengadzani. Masih ada tugas lagi buat saya, melahirkan adik plasenta Raya. Dibantu para bidan dan suami, saya pindah ke tempat tidur untuk melahirkan plasenta. Sekitar 15menit kemudian plasenta lahir dan mulailah saya dijahit perineumnya. Hihihi..

Sebenarnya robekan perineum bisa dicegah dengan pijat perineum. Saya sih sudah melakukan pijat perineum, tapi ga rajin ditambah obral mengejan yang bikin lebih banyak robekannya. Maklum, sudah ga sabar ketemu Raya😀.

Setelah semua selesai, sambil menyusui Raya saya ingat kalau duluuu waktu hamil muda saya pernah ngobrol dengan mama tentang HPL. Mama bilang “bisa jadi kamu lahiran pas ulang taun e papa” dan benar, Raya lahir tanggal 30 Mei 2013 tepat saat papa ulang tahun ke 55th. Jam lahirnya juga nurutin maunya suami, setelah solat Asar.

Sayangnya proses lahirnya raya tidak ada dokumentasinya. Padahal suami sudah siapin kamera dan tripod, cuma tinggal pencet aja. Tapi karena selama kontraksi saya maunya deket dan diusap-usap sama suami, jadilah lupa buat ngerekam. Lupa juga buat nitip ke mba Rida atau mba Ririn. Haha..

Terima kasih yang tak tehingga pada Alloh karena tanpa ijinNya saya mungkin tidak bisa melahirkan selancar ini. Pada bude bidan Erie Tiawaningrum dan timnya (mba Ririn & mba Rida), maaf kalo saya cerewet dan ‘heboh’😀. Pada suamiku, yang sering saya omelin selama hamil sampai proses melahirkan. Dan terima kasih untuk Raya yang mau bekerjasama membuat pengalaman indah tentang kelahirannya. Luv yu all

Posted from WordPress for Android

7 thoughts on “Penambahan status baru : Ibu dari Narendra Raya Utomo

  1. Selamat y steph buat kelahirannya..semoga jadi anak yg senantiasa berbakti pada org tua dan Tuhan..amin..

  2. halo salam kenal ya mba stephia. boleh tau no kontak bidan erie?
    kebetulan usia kehamilanku 38-39w dan ingin lahiran normal.. thanks ya🙂

    • add saja fb-nya Erie Marjoko..atau langsung ke kliniknya di Citayem, Depok..
      sehat selalu ya mba & moga berjodoh sama bidan Erie..:*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s