Beranda » My Story » My pregnancy » Pembedayaan diri vs Prosedur Standar

Pembedayaan diri vs Prosedur Standar

Masuk usia kehamilan 8 bulan (32 week) saya semakin semangat untuk memberdayakan diri dengan latihan-latihan dan kegiatan-kegiatan yang bisa menunjang untuk kelahiran normal. Setiap hari goyang inul dengan birthing ball, bahkan mengganti kursi dengan birthing ball (ini mah males pindah😀 ). Setiap hari tetap ngeyel jalan kaki ke shelter busway meskipun sama suami udah dilarang-larang. Dengerin relaksasinya Mba Eva setiap mau tidur malam. Yoga dirumah dengan panduan dari Larra Dutta & Rana Lee yang saya download dari youtube. Latihan nafas saat pupy (belum tau juga siy bener atau ga-nya, Cuma katanya mengejan saat melahirkan tehniknya mirip sama mengejan kalau pupy). Selain itu mungkin seperti yang mom-to-be lain lakukan yah, seperti kaki diganjal bantal untuk mengurangi bengkak, menahan diri biar badan ga semakin melebar dan babynya jadi over weight.

Semua saya lakukan untuk mencapai impian saya, melahirkan secara normal dan gentle.

Tapi disamping optimisme saya itu, ada sedikit ketakutan dan keraguan. Gimana kalau baby mau lahir di Jakarta sementara saya tidak sempet ke klinik  Mba Erie di Citayam. Akankah semua usaha saya sia-sia karena saya harus melahirkan di rumah sakit terdekat yang sudah punya prosedur sendiri.

Banyak teman cerita tentang proses melahirkan di rumah sakit-rumah sakit besar dan favorit di Jakarta. Baik dibantu dokter ternama maupun dengan dokter yang jarang terdengar :p. Ada yang cerita ketubannya rembes trus langsung dicesar, padahal kan dari ilmu-ilmu yang saya dapat dari bidankita.com dan GBUS ketuban masih bisa diselamatkan dengan terus rehidrasi. Tapi yang rumah sakit bilang, harus segera dicesar keburu ketubannya habis. Cerita lain bilang kalau perineum harus digunting untuk mempercepat bayi lahir. Ada juga yang “kehilangan” bayinya setelah dilahirkan, padahal iklannya rumah sakit tersebut pro IMD. Ada yang sudah bukaan 4, menyerah ke meja cesar karena perawat/ bidannya bilang “ibu kuat tidak? Ini baru bukaan 4 lho Bu. Masih lama sampai bukaan 10, cesar saja bu biar cepat dan tidak sakit” haduuuuh, ini tenaga kesehatan kok malah ngeracunin. Prosedur lainnya ada yang langsung pasang infus yang entah untuk apa, tapi yang pasti infus tersebut menghambat mobilisasi si ibu dan mungkin menyebabkan pembukaan menjadi lebih lambat. Dan segala cerita-cerita tidak enak tentang rumah sakit.

Sampai hari ini sih saya terus bertanya pada baby mau lahir dimana dan kapan. Cuma saya belum dapat jawaban jelas dari baby (atau saya yang kurang peka ya :D), jadi saya afirmasikan sama baby untuk memilih hari lahirnya selain tanggal 9 dan 10 Mei yang saya rencanakan untuk perjalanan pulang ke Solo.

Semoga baby mau bekerja sama dengan dan impian saya bisa terwujud.

Oia, untuk pembaca blog ini mohon diambil yang baik saja dan yang buruk dibuang. Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan standar pelayanan rumah sakit. Tulisan ini hanya sarana menumpahkan kegalauan saya sendiri saja, seperti tagline blog ini “my way to say the unspoken word”😀

2 thoughts on “Pembedayaan diri vs Prosedur Standar

  1. Hallo mbak, cerita-cerita nya inspiratif sekali ya. Salam kenal. Saya calon ibu baru, saat ini sedang hamil 20w. Belajar gentle birth juga dengan ibu Yesie di Klaten. Dan berencana melahirkan nanti dengan bidan Erie. Tapi yang bikin saya ragu adalah jarak rumah ke klinik bidan Erie, karna saya tinggal di tanjung priok, jakarta utara. Kalo boleh tau, mbak tinggal di daerah mana tepatnya? Buat referensi saya saja, bahwa jarak bukan jadi kendala. Terima kasih banyak.

    • Saya tinggal di Kebon Kacang Tanah Abang.
      Kalau yoga, sebulan sekali saya ke Citayam naik krl. Sampe uk. 39w saya masi naik krl. Disambung ojek. Akhir2 suami nemu jalan tembus ke stasiun, jadi dilanjut jalan kaki ke kliniknya bidan Eri.
      Saat mau melahirkan saya naik taksi setelah subuh. Jadi jalanan juga belum macet.
      Semoga berjodoh dg bidan erie ya mba..
      Sehat2 :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s