Kelas Prenatal Hypnobirthing

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang hamil – persalinan – melahirkan yang harus bisa dipelajari sendiri, akhirnya saya putuskan untuk ikut kelas prenatal hypnobirthing dengan Mba Evariny. Mba Evariny ini adalah murid dari Ibu Lanny Kuswandi, pelopor hypnobirthing di Indonesia. Karena saya sudah punya buku tulisan Bu Lanny, biar saya semakin “kaya” ilmu makanya saya ikut kelasnya Mba Eva bukan Bu Lanny. Selain itu saya pernah baca kalau tidak salah di forumnya female daily, katanya materi yang diberikan Mba Eva lebih lengkap dari Bu Lanny padahal harganya lebih murah (tetep ada faktor harga :D). Kenapa Mba Eva pasang harga lebih murah karena Mba Eva juga murid Bu Lanny.

Awal saya tanya tentang jadwal di pertengan bulan Januari lalu, saya diinformasikan kalau kelas sudah full hingga bulan Maret. Ternyata banyak juga yang tertarik sama hypnobirthing ini. Hihihihiii, dikirain sepi peminat. Tapi Alhamdulilah, rejekinya baby kali ya, hari itu saya pengen banget nanya lagi tentang jadwal kelas hypnobirthing. Ternyata dibuka kelas baru di awal bulan Februari karena banyaknya peminat. Ga pake pikir lama & nanya suami, saya langsung daftar dan transfer DP pembayarannya.

Yup, akhirnya kemarin tanggal 9-10 Februari saya dan  suami ikut pelatihan hypnobirthing. Selain saya ada 4 pasangan lagi yang ikut pelatihan. Detail materi dan latihan apa saja yang saya dapat dari pelatihan ini pernah ditwit di @infohamil, atau bisa dibaca disini.

Lucunya, karena saya memang gampang banget tidur, saat latihan relaksasi yang lain sudah kembali kealam sadar, saya malah bablas ke tidur nyenyak :D. Yang menarik juga adalah saat berkomunikasi dengan spirit janin. Saat sedang diberi materi, si baby terus-terusan bergerak. Tapi saat musik relaksasi dinyalakan dan masing-masing dari kami memasukkan sugesti ke janin, baby diam saja tak bergerak seolah-olah ia memang mendengar apa yang papi-maminya pesankan untuk dia. Yang saya sampaikan saat itu hanyalah ucapan terima kasih karena baby sudah memilih kami untuk merawatnya dan terima kasih untuk segala pengertiannya dengan tidak meminta yang aneh-aneh (selama hamil saya tidak mengalami ngidam yang merepotkan, tidak mengalami morning sickness sama sekali) dan memintanya untuk lebih sehat lagi, lebih aktif lagi agar nanti saatnya dia lahir dapat berjalan dengan alami, lancar dan nyaman. Cuma itu aja (eh, panjang ya) :D.

Hari kedua lebih seru lagi karena lebih banyak praktek. Ada praktek untuk memposisikan janin di jalan lahirnya dengan tehnik rebozo atau dengan goyang inul di gymball. Ada praktek pijat akupresur untuk mengurangi nyeri kontraksi, pijat endorphine untuk memacu hormon endorphine, juga pijat perineum untuk mencegah robeknya daerah perineum (daerah antara vagina dengan anus). Eits, jangan dibayangkan saat latihan langsung memijat perineum ya. Kita cuma dijelaskan caranya dan prakteknya simulasi aja.

Setelah mengikuti kelas hypnobirthing ini, yang saya rasakan adalah menjadi lebih percaya diri untuk menjalani kehamilan ini dan semoga tetap seperti itu hingga melahirkan nanti. Saya jadi punya bayangan seperti apa proses persalinan – melahirkan, tau apa yang harus dilakukan saat kontraksi datang, dan banyak ilmu lain yang susah untuk dituliskan. 😀

Oia, ini oleh-oleh yang saya bawa pulang dari 2 hari kelas hypnobirthing Mba Eva.

2013-02-20 21.44.46   keterangan gambar :

– 1 flashdisk 4GB yang isinya materi, musik relaksasi & sugesti/ afirmasi

– 1 botol minyak vco untuk pijat perineum

– 2 buah pendulum untuk latihan fokus relaksasi

semuanya dimasukkan dalam 1 botol asi 🙂

Iklan

Kencan sama dokter #7

Kencan kali ini ada diawali tragedi ada yang pingsan diruang periksa. Semua yang diruang tunggu sudah mengira kalau bumil yang lagi diperiksa yang pingsan. Perawat-perawat sudah panik, ambil tabung oksigen, siapin kursi roda, teh manis. Ternyata…yang pingsan adalah salah satu perawat :D. Mungkin karena banyaknya pasien, mbak perawat ini sampai lupa makan, lemes dan pingsanlah dia.

Oia, bagaimana saya dapet antrian juga harus diceritakan tuh. Si mas udah antri dari jam 7 pagi dan udah dapet nomer antrian 17, padahal pendaftaran pasien baru dibuka jam 8 tepat. Kata mas, udah banyak pula bumil-bumil yang antri dari pagi. Dan lucunya, waktu sore saya antri untuk periksa ada bumil yang baru dateng dan mau langsung antri aja. Pake maksa pula. Hadeh, ga update banget niy si ibu. Dikiranya dr. Bob masih kayak dulu yang ga banyak pasien.

Antri periksa kali ini adalah antrian yang paling cepat diantara sebelumnya karena saya cuma menunggu 2 pasien dan saya langsung dipanggil. Seperti biasa, saat masuk ruang periksa dr. Bob sibuk dengan HP/ BBnya. Saat mulai memeriksa baby kecuil, dr. Bob cerita kalau mempertahankan janin sampai 40minggu sama dengan ngupil menggunakan jempol. Karenanya dr. Bob selalu menyarankan pasien-pasiennya melahirkan di minggu ke-37, biasanya dengan induksi infus. Periksa kali ini saya juga mulai mencari tahu tentang SOP di kliniknya. Saya dan suami bertanya tentang delayed cord clamping yang sekarang mulai disarankan oleh WHO. Jawaban dari dr. Bob secara tersirat bilang kalau beliau tidak setuju dengan praktek tersebut. Beliau menganalogikan peredaran darah bayi adalah jalan biasa yang bisa dilewati kendaraan-kendaraan kecil seperti bajaj. Dan setelah lahir, peredaran darah bayi akan berubah seperti manusia lainnya yang melewati paru-paru atau beliau analogikan sebagai jalan protokol dimana bajaj-bajaj tidak bisa lewat. Ketika tali pusat langsung dipotong maka peredaran darah akan langsung melalui paru-paru. Jadi darah-darah kotor atau dalam analoginya bajaj yang harus dibuang di hati tidak banyak. Sedangkan kalau ditunda pemotongan tali pusatnya, maka akan masih banyak banyak yang lewat dan akan membuat kerja hati semakin berat membuang kotoran-kotoran dalam darahnya.

Waduh, salah satu poin birth plan saya tidak sesuai sama SOP dr. Bob. Saya ingin menunda pemotongan tali pusat bukan karena ikut tren, selain karena alasan-alasan medis yang bagus untuk mengawali hidupnya. Saya ingin membuktikan pernyataan yang menyebutkan bahwa bayi yang tali pusatnya ditunda pemotongannya akan lebih tenang setelah lahir. dr. Bob juga nyinggung tentang water birth, beliau juga tidak setuju dengan water birth karena alasan susah untuk nakes melakukan tindakan. Wah, wah ini juga ga sesuai dengan impian melahirkan saya. Sepertinya PR saya bertambah, saya harus mencari Nakes di Jakarta yang bisa memfasilitasi apa yang saya inginkan dalam proses persalinan – melahirkan. Ya, untuk berjaga jaga saja jikalau ternyata baby kecuil ini  ingin lahir lebih cepat sebelum saya cuti.

Oia, tulisan saya diatas bukan berarti saya mengatakan kalau dr. Bob tidak bagus ya SOP di kliniknya. Disela-sela antri, saya terkadang masuk kekamar perawatan atau ke inkubator untuk ngobrol dengan ibu-ibu yang baru melahirkan disana. Bahkan saat periksa kali ini ada bumil yang datang keklinik sudah bukaan 8, dan sekitar 1 jam kemudian bukaan sudah lengkap. Cuma saat proses melahirkannya saya sudah pulang jadi tidak tahu gimana kelanjutannya. Banyak juga yang sudah share pengalaman melahirkan diklinik dr. Bob seperti cerita ini.

Hanya saja kurang sejalan dengan persalinan impian saya. Jadi mohon untuk lebih bijak menyikapi tulisan saya yang mungkin sedikit provokatif 😀 .

okeh, artinya saya harus terus berdayakan diri, terus belajar, terus bertanya agar tercapai proses persalinan yang saya impikan.

Cerita Janin

Cerita ini saya peroleh dari mba Evariny saat pelatihan hypnobirthing kemarin. Saat materi tentang proses persalinan – melahirkan, Mba Eva bercerita tentang seorang ibu hamil yang sangat takut akan natural childbirth. Mungkin karena cerita – cerita pengalaman yang si ibu ini dengar sebelumnya kalau melahirkan itu sakit.

Karena cerita – cerita itu sudah terekam demikian sempurna dialam bawah sadarnya, maka si ibu ini tidak berniat sama sekali untuk melahirkan secara normal. Sejak awal ia memang sudah berencana untuk operasi cesar dimana ia tidak lagi merasakan kontraksi yang “katanya” sakitnya luar biasa. Setiap ada yang bertanya tentang pilihan melahirkan, ia pasti akan menjawab melahirkan dengan cesar. Ia juga sudah merencanakan akan operasi di RS mana, dengan dsog siapa, tanggal dan waktunya juga sudah dipastikan.

Namun ia lupa kalau janin yang ada didalam rahimnya adalah seorang calon manusia yang sudah mempunyai nyawa dan kemauan. Janin ini mengerti ketakutan, kepanikan dan segala apa yang dirasakan ibunya. Tapi ia sendiri juga memiliki kemauan lain dimana ia ingin lahir kedunia dengan normal dan alami. Beberapa hari sebelum tanggal pilihan ibunya, ia sudah mendesak mulut rahim membukakan jalan untuk ia lahir. Hebatnya, setiap bukaan mulut rahim yang biasanya ditandatandai dengan kontraksi tidak dirasakan ibunya sama sekali. Hingga bukaan nyaris lengkap si ibu baru merasakan rasa sakit kontraksi. Sakit ini sebenarnya hanya tanda/ sinyal dari si janin untuk meminta ibunya mengejan agar ia bisa melihat dunia.

Tapi ternyata si ibu tetap menolak untuk melanjutkan proses alami yang hanya kurang sedikit. Setiba dirumah sakit dan diberitahu bahwa bayinya akan lahir, si ibu langsung meminta tindakan cesar saat itu juga. Ya akhirnya si bayi memang lahir selamat kedunia dan ibunya juga selamat dari rasa takutnya.

—-

Dan saya sudah mewek mengingat sembari menulis cerita ini. T___T

Saya bayangkan kalau saya jadi janin yang ada dirahim ibu tersebut, mungkin yang ia katakan adalah “oke, kalau ibu ga mau merasa sakit, aku aja yang mencari jalan lahir sendiri. Tapi aku tetap butuh ibu mengejan biar aku bisa lahir, sakit sedikit ya buuu”.

Jujur, saya pernah mengalami ketakutan itu. Alhamdulilah sekarang saya sudah lebih siap, lebih memahami apa yang dimaui si baby kecuil ini :). Semoga saya bisa memberikan yang terbaik sejak pertama kali ia melihat dunia.

9 bulan, cukupkah ?

Menurut keilmuan dan tercantum juga di Hadist, lama waktu wanita hamil adalah 9 bulan 10 hari.  Betapa baiknya Alloh memberi waktu sekian lama untuk calon orang tua mempersiapkan kelahiran anaknya. Mempersiapkan disini, dalam arti semuanya ya. Ya biaya, ya kebutuhan, ya ketrampilan merawatnya.

Alhamdulilah saya ketahuan hamil waktu usianya masih muda, 6 minggu. Jadi ada banyak waktu untuk menabung mempersiapkan biaya persalinan, biaya kebutuhan bayi baru lahir, dan biaya untuk akikahnya. Saya juga jadi punya banyak waktu untuk belajar memberdayakan diri selama hamil. Lagi-lagi saya bersyukur karena menemukan artikel tentang gentle birth di female daily dan akhirnya memaksa saya untuk mengklik website bidan kita. Sejak itu, setiap ada waktu luang dikantor atau malam sebelum tidur, saya sempatkan untuk “belajar” dari web/ facebook bidankita, grup GBUS (Gentle Birth Untuk Semua) di facebook. Dari situ saya dapet ilmu tentang gentle birth, hypnobirthing, waterbirth, keyakinan untuk mampu melahirkan alami, dan segudang ilmu tentang hamil dan proses melahirkan.hasil perburuan

Hampir setiap hari membaca dari HP/ komputer, mata saya sepertinya mulai complain. Karena itu saya paksakan kaki saya untuk ke toko buku, kegiatan yang sudah lama sekail tidak saya lakukan.  Saking semangatnya, saya sampai ndlosor-ndlosor milih bukunya :D. Hari itu saya dapet 2 buku tentang gentle birth dan hypnobirthing. Selain buku, saya juga beli gym ball untuk latihan pelvic rocking dirumah.

Tamat baca 2 buku tersebut masih tetep saja kurang. Rasanya banyak materi/ bagian di buku itu yang belum bisa saya praktekin sendiri. Hadeuh, susah juga ternyata belajar sendiri. Dan memang sepertinya bukan tipe saya untuk belajar sendiri, saya perlu mentor untuk membimbing saya. Browsing-browsing lagi, cari-cari info lagi dimana saya bisa belajar. Alternatifnya ada 3, pelatihan hypnobirthing dengan Ibu Lanny Kuswandi di Pro V klinik, pelatihan hypnobirthing dengan Mba Evariny dirumahnya dan pelatihan hypnobirthing dengan Bidan Yesie di Bidan kita Klaten.

Tadinya saya dan suami sudah membulatkan tekad untuk menyempatkan waktu pulang ke Solo dan belajar ke Klaten sekalian survey tempatnya, karena jika memungkinkan kami ingin si baby lahir disana. Tapi setelah tanya-tanya dan email-email ke Bidan Yesie, biaya yang dikeluarkan cukup banyak kalau saya harus ke Klaten. Belum lagi pertimbangan kondisi perut yang semakin membuncit. Yasudahlah, kami banting setir ke Mba Evariny. Ceritanya bisa dibaca disini.

Sekarang usia kandungan saya sudah 6 bulan, yang harus saya pelajari sudah tambah lagi. Kali ini tentang perawatan & pengasuhan bayi,  mulai tentang menyusui, asi perah sampai tentang popok. 😀

Fiuh, mau masuk tahap baru dikehidupan memang susah ya. Kalau dulu masih ada guru/ pembimbing yang bimbing tiap mau masuk tahap pendidikan yang lebih tinggi. Nah sekarang, semua harus dipelajari dan dipersiapkan sendiri.

Semoga sisa waktu yang masih sekitar 3 bulan ini bisa cukup untuk saya mempersiapkan yang terbaik untuk seorang manusia baru yang akan lahir dari rahim saya..